Sumber : Opini Religi warpol.id | Editor : Syahidin
Kota Bandung, warpol.id || Ada yang bertanya kepada Ustadz, "Ada orang rajin sholat 5 waktu sehari semalam, tapi masih korupsi. Untuk apa sholatnya?"
Ustadz menjawab dengan tenang:
"Bismillah, pertanyaannya bagus, tapi hati-hati jangan sampai logika kita terbalik.
Kalau ada orang rajin sholat tapi masih korupsi, yang salah bukan sholatnya, yang salah melakukan korupsinya.
Ibarat orang sakit berobat belum sembuh, jangan salahkan obatnya, tapi kedisiplinan minum obatnya yang harus diperbaiki.
Ibarat orang mandi tapi masih bau, jangan berhenti mandinya, tapi cara menggosok kotorannya yang harus lebih bersih.
Begitu juga sholat. Jangan bilang 'Buat apa sholat kalau masih maksiat'. Justru karena kita banyak maksiat, kita sangat butuh sholat.
Allah berfirman: INNA SHOLATA TANHA 'ANIL FAHSYA-I WAL MUNKAR. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-Ankabut: 45).
Jadi kalau sholat belum bisa mencegah korupsi, ada 3 kemungkinan:
1. SHOLATNYA BARU DI TUBUH, BELUM DI HATI.
Tubuhnya sudah menghadap kiblat, tapi hatinya masih menghadap uang. Lisannya Allahu Akbar, tapi di hatinya 'uang lebih besar'.
2. PERBAIKI HOLATNYA JANGAN TERBURU-BURU.
5 kali sehari dipanggil Allah, tapi sholatnya seperti orang dikejar-kejar. Mana mungkin sholat 2 menit bisa mencegah korupsi 24 jam?
3. SHOLATNYA BELUM DIPAHAMI.
Sholat itu bukan hanya gerakan, tapi latihan kejujuran. Di dalam sholat kita tidak berani berbohong, tidak berani makan, tidak berani menoleh. Seharusnya di luar sholat juga begitu.
"Maka jangan pernah tinggalkan sholat karena merasa masih kotor. Justru Orang yang banyak dosa harus rajin sholat. orang kotor harus rajin mandi."
Biarkan sholat itu yang pelan-pelan membersihkan kita. Hari ini sholatnya masih belum mencegah korupsi, tapi siapa tahu sholat Subuh besok yang akan Allah jadikan titik balik taubatnya.
Maksiatnya yang harus berhenti, bukan sholatnya."
Sholatlah sebelum disholatkan. (Syahidin)

Posting Komentar