Akad Gratis di KUA, Resepsi Tetap Mewah, Jangan Terbalik Memaknai Pernikahan

Sumber : Opini Pemerhati Sosial Keagamaan warpol.id | Editor : Syahidin

Akad Gratis di KUA, Resepsi Tetap Mewah, Jangan Terbalik Memaknai Pernikahan

Bandung, warpol.id ||  Fenomena menarik terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia. Banyak pasangan kini memilih akad nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA), namun tetap menggelar resepsi hajat yang mewah. Ini adalah fakta di lapangan.

"Ada pemandangan yang kini sering kita lihat. Pagi hari, sepasang pengantin dengan pakaian sederhana melangsungkan akad nikah yang khidmat di Kantor KUA. Gratis. Sah. Hanya butuh waktu 15 menit. 
Sore harinya, di gedung mewah, ratusan tamu hadir dengan dekorasi puluhan juta bahkan ratusan  juta hingga milyaran, catering berlapis-lapis, dan organ tunggal yang menggelegar."

Sah? Jelas sah. Bahagia? Tentu bahagia. Tapi ada satu pertanyaan halus yang perlu kita renungkan bersama: Kapan pernikahan kita menjadi lebih tentang pesta daripada tentang akadnya itu sendiri?

Secara nasional, aturan Kemenag RI sudah sangat jelas dan transparan: Nikah di KUA pada jam kerja GRATIS Rp 0, dan nikah di luar KUA dikenakan PNBP Rp 600.000,- yang langsung disetor ke Kas Negara. Tidak ada biaya lain.

Ini adalah prestasi pelayanan. Masyarakat semakin cerdas dan tertib administrasi. Tren ini sebenarnya adalah cerminan cerdasnya masyarakat. Akad yang sakral dilaksanakan secara sederhana, hemat, sah secara agama dan negara. Anggarannya kemudian dialihkan untuk walimatul ursy atau syukuran bersama keluarga besar.

Namun dari sisi edukasi umat, ada yang perlu kita luruskan.

Akad nikah bukanlah sekadar tanda tangan di buku nikah. Di sanalah ada ijab kabul, ada perjanjian agung (mitsaqan ghalizha) antara seorang hamba dengan Tuhannya. Di sanalah air mata wali menetes, di sanalah janji suci diucapkan dengan satu tarikan nafas.

Jangan sampai karena mengejar hajat mewah, makna sakral akad itu menjadi nomor dua.

Kita lihat hari ini, ada yang lebih pusing memikirkan warna baju seragam keluarga besar, daripada menghafal lafadz ijab kabul. Lebih sibuk memikirkan gedung mana yang paling megah, daripada memikirkan apa tanggung jawab setelah akad nanti.

"Pernikahan hemat di KUA itu cerdas, tapi jangan sampai kita menjadikan resepsi sebagai tujuan utama."

Islam tidak melarang resepsi mewah. Silakan, jika mampu. Itu bagian dari syukur. Walimatul Ursy memang dianjurkan. Tapi Islam mengajarkan keseimbangan.

Alangkah indahnya jika kemewahan resepsi sebanding dengan kemewahan persiapan ilmu rumah tangganya. Sebanding dengan kemewahan doa dan keikhlasan saat akad di KUA itu berlangsung.

Untuk para calon pengantin, nikah di KUA adalah pilihan yang sangat bijak dan patut diapresiasi. Hemat, sah, dan berkah. Lanjutkan.

Tapi mari kita kembalikan makna: Yang gratis di KUA itu bukan murahan, itu justru yang paling mahal nilainya di hadapan Allah. Yang mewah di gedung itu bukan yang utama, itu hanya perayaan.

Semoga tren ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali ke esensi: akadnya yang utama, resepsinya adalah syukur.  Wallahu a'lam ( Syahidin )

0/Post a Comment/Comments

WARPOL
WARPOL

TOTAL VISITS :

BISON, BLITZ

WARPOL
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA

MOLLAR PROFESSIONAL

WARPOL
BERKUALITAS DAN TERPERCAYA