Sumber : Opini | oleh : Syahidin penderita Sakit Hamstring dan Gula Darah Tinggi
Saat ini saya sedang berjuang dengan 2 "guru" : "sakit hamstring dan gula darah tinggi."
Saya bukan dokter. Saya juga bukan ahli agama.
Saya hanya orang biasa yang sedang diberi "teguran lembut" oleh Allah lewat sakit.
Sebagai manusia biasa, awalnya saya bertanya Kenapa harus saya?
Kenapa pas mau ziarah, pas mau jum'atan, kaki malah kelupas, nyeri, kesemutan dan kebas. Tapi lama-lama saya sadar. Sakit ini guru terbaik yang tidak pernah saya tolak.
Pelajaran pertama: Bersyukur saat sehat
Dulu jalan 2 km rasanya enteng. Sekarang jalan 20 meter saja mikir 3 kali.
Baru kerasa nikmatnya bisa wudhu sendiri, bisa sujud tanpa nahan sakit.
Ternyata sehat itu mahal. Dan kita baru ngeh harganya pas dompetnya kosong
Pelajaran kedua: Melambat bukan berarti kalah
Saya dipaksa berhenti. Dipaksa duduk. Dipaksa banyak istighfar.
Dari situ saya belajar mendengar tubuh. Belajar bilang "cukup" pada ego.
Allah mungkin sedang bilang: "Istirahat dulu. Aku yang jaga urusanmu."
Pelajaran ketiga: Manusia itu rapuh, tapi tidak sendiri
Pas sakit, yang nanya kabar banyak. Yang doain banyak. Ada anak, ada teman, ada orang yang bahkan tidak saya sangka. Sakit membuka pintu kasih sayang yang selama sehat tertutup rapat.
Pelajaran keempat: Ibadah niat dan bersabarlah. .
Saya belum khusyuk jum'atan di masjid. Tapi rindu saya ke masjid sudah jadi pahala.
Allah Maha Tahu. Dia tidak menilai hasil, Dia menilai usaha dan hati.
Allah sedang melatih sabar dan disiplin
Gula tinggi memaksa saya atur makan.
Hamstring memaksa saya istirahat.
Ternyata tubuh ini titipan. Kalau tidak dijaga, dia akan "menegur" dengan caranya sendiri.
Sekarang saya masih berobat. Masih kontrol gula. Masih belajar sabar dengan kebas dan kesemutan.
Tapi saya sudah tidak marah lagi.
Karena saya tahu, setiap sakit ada 2 hal:
"Penghapus dosa dan peningkat derajat."
Kalau Bapak Ibu sedang sakit hari ini, jangan buru-buru tanya "kapan sembuh?"
Coba tanya dulu: "Apa yang Allah mau ajarkan lewat ini?"
Percaya deh...
Di balik perih, selalu ada pelajaran.
Di balik luka, selalu ada cahaya.
Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar