Sumber : Jurnalis warpol.id Indramayu | Editor : Syahidin
Azriel Choirulloh Akbar
Marhaenisme Dinilai Masih Relevan Hadapi Ketimpangan di Era Modern
WARPOL.ID, INDRAYAMAYU || Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi, persoalan klasik bangsa Indonesia yaitu ketimpangan sosial dinilai belum sepenuhnya selesai. Dalam kondisi seperti itu, gagasan *Marhaenisme* yang dicetuskan Bung Karno kembali disorot sebagai ideologi yang relevan untuk menjawab tantangan zaman.
Hal itu disampaikan dalam kajian yang ditulis Azriel Choirullah Akbar dari Indramayu dan diterima redaksi WARPOL.ID
Lahir dari Realitas Rakyat Kecil
Dalam tulisannya, Azriel menyebut Marhaenisme lahir bukan dari teori jauh dari kehidupan. Bung Karno justru membaca langsung kondisi petani, nelayan, pedagang kecil, dan kaum pekerja yang menjadi penyangga bangsa, namun sering termarjinalkan.
“Bung Karno menyadari rakyat Indonesia berbeda dengan masyarakat industri Barat. Banyak yang punya sawah, perahu, gerobak, atau alat kerja sendiri, tapi hidupnya tetap dalam lingkaran kesulitan. Dari sanalah lahir istilah Marhaen, simbol rakyat kecil Indonesia,” tulis Azriel.
Lebih dari Sekadar Ideologi Ekonomi
Menurut Azriel, Marhaenisme bukan hanya soal ekonomi. Lebih dari itu, ia merupakan cara pandang tentang kehadiran negara.
“Negara tidak cukup menjadi pengatur kebijakan, melainkan harus menjadi pelindung bagi mereka yang paling rentan. Ukuran keberhasilan bangsa bukan hanya tinggi pertumbuhan ekonomi, tapi seberapa kecil jarak antara yang berkecukupan dan yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar,” jelasnya.
Tantangan Baru di Era Modern
Di era sekarang, tantangan tidak lagi berupa penjajahan fisik. Azriel menyoroti ketimpangan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, teknologi, hingga penguasaan sumber daya ekonomi sebagai bentuk baru persoalan kebangsaan.
Karena itu, semangat Marhaenisme tidak berhenti sebagai cerita sejarah. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan harus menempatkan manusia sebagai tujuan utama, bukan sekadar angka statistik.
“Nasionalisme memperoleh maknanya ketika rakyat merasakan kehadiran negara. Ketika petani mudah menjual hasil panen, nelayan mendapat perlindungan, UMKM berkembang, dan generasi muda punya akses masa depan yang sama,” lanjut Azriel.
Pengingat Tugas Sejarah Belum Selesai
Azriel mengutip keyakinan Bung Karno bahwa politik tanpa keberpihakan pada rakyat hanya akan melahirkan kekuasaan yang kehilangan arah.
“Selama masih ada ketimpangan yang membatasi kesempatan hidup seseorang, maka Marhaenisme belum selesai menjalankan tugas sejarahnya,” tegasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa Marhaenisme bukan sekadar warisan pemikiran Proklamator. “Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada lepasnya bangsa dari penjajahan, melainkan terus diperjuangkan melalui keadilan sosial yang benar-benar dirasakan seluruh rakyat Indonesia.”
Reporter: Azriel Choirullah Akbar
Editor: Redaksi warpol.id


Posting Komentar